Guru Bukan Robot Kurikulum
Oleh: Sugiyanto*
Kurikulum
akan selalu berubah dan berkembang sebagaimana kehidupan manusia. Perkembangan
kurikulum akan mengikuti progress peradaban manusia. Peradaban manusia
berkorelasi dengan keinginan memudahkan kehidupannya, keingintauhuan, dan
hasrat menguasai semesta. Peradaban
demikian akan menghasilkan perubahan pola pikir dan terciptanya berbagai
teknologi. Pada sisi lain kurikulum jelas bermuatan tatanilai yang tetap
mengendalikan manusia sebagai mahkluk Tuhan, manusia sebagai mahkluk sosial
dengan tatanan makna hidup serta nilai kehidupan. Kedua karakter kurikulum
tersebut harus tersinergikan, jika tidak peradaban akan membawa pada
kehancuran. Keterpaduan faktor di atas menjadi muatan kurikulum baik dari segi
material maupun penerapannya.
Penerapan
kurikulum dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan seperti: agamis, politis,
kultural, kepentingan dan kebutuhan masyarakat, serta ekonomis. Penerapan
kurikulum diharapkan akan mencapai tujuan
(target). Paradigma pencapaian tujuan itu diikuti intruksi-intruksi
tertentu dalam pelaksanaannya. Intruksi tersebut mengatur dan mengikat segenap stake holder pendidikan, sampai pada
titik akhir yaitu pelaksanan pembelajaran dalam kelas. Penerapan intruksi
implementasi kurikulum akan memunculkan berbagai dampak pengiring. Dampak
pengiring adalah hal lain sebagai ekses, baik positif maupun negatif, dari
instruksi (kebijakan).
Kemunculan
dampak pengiring tersebut terwujud dalam tataran kebijakan pemerintah,
kehidupan masyarakat secara makro, lembaga dan kelas-kelas. Dampak pengiring
dapat juga terencanakan tetapi juga dapat muncul sebagai sebuah sistem terkait.
Realitas demikian akan menghasilkan sebuah statemen bahwa kurikulum baik dari
material, pelaksanaan dan evaluasi akan memunculkan interprestasi yang
kompleks. Kurikulum baik secara aksiologis, ontologis dan epistimologis akan
memunculkan multi interprestasi. Dan itulah salah satu makna sebuah perubahan.
Demikian halnya dengan pemberlakuan kurilum 2013.
Kurikulum
2013 dapat terkategorikan the
administrative (line staf) model. Pendesain kurikulum adalah para
administrator pendidikan dengan menggunakan prosedur administrasi. Kurikulum
dibuat oleh pemerintah atau badan tertentu -Indonesia oleh Depdiknas- kemudian
digunakan oleh semua lembaga pendidikan. Penerapan pengembangan kurikulum ini
berfilosofis dari atas ke bawah (top down)
dan berpola sentralistik. Pelaksanaan kurikulum ini telah mengatur materi
sampai dengan pada kegiatan pembelajaran guru di kelas.. Implementasi kurikulum
2013 juga menyertakan buku pegangan guru dan murid sampai dengan metode
mengajar guru.
Dampak pengiring implementasi The administrative (line staf) model ada
kelebihan dan kekurangan. Kelebihan meliputi: (1) Mutu pendidikan secara
nasional dapat terkontrol; (2) Adanya kesamaan interprestasi dan persepsi
seluruh warga masyarakat tentang pedoman pelaksanaan pendidikan; (3) Kesamaan
layanan pendidikan terhadap masyarakat; (4) Kompetensi guru secara nasional
dapat terkontrol; (5) Mutu pendidikan baik dari segi proses perilaku,
kompetensi kognetif maupun skill akan berkembang sesuai dengan tuntutan
peradaban.
Kekurangan
kurikulum demikian adalah: (1) Ketidaksesuaian tentang apa yang ada dalam
kurikulum dengan kondisi riil masyarakat;
(2) Kemajemukan bangsa Indonesia tidak menjamin keberlangsungan kurikulum
secara optimal; (3) Ketidaksesuaian muatan kurikulum dan kebutuhan peserta
didik; (4) Evaluasi pendidikan disamakan antardaerah satu dengan yang lain
dengan berbagai kondisi yang berbeda; (5) Pada tataran implementasi akan ada
penyelarasan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi; dan (6) Kurang
memperhatikan perbedaan motivasi belajar dan kompetensi peserta didik. Namun
demikian kekurangan ini akan tertutup oleh kompetensi dan mind set stake holder pendidikan yang berkapabelitas.
Penerapan sebuah kurikulum tidak bermakna ketika mind set stake holder pendidikan tidak mengikuti. Dengan kata lain,
filosofi muatan kurikulum 2013 itu tidak berjalan dengan optimal jika tidak
diikuti pola pikir segenap pelaku pendidikan. Pemangku kebijakan, pengawas
sekolah, kepala sekolah dan guru-guru adalah penentu keberhasilan implementasi
sebuah kurikulum. Pada sisi lain penerapan kurikulum berkarakter top down dimungkinkan guru menjalankan
pembelajar seperti robot.
Guru
akan seperti robot kurikulum jika salah menyikapi hal-hal berikut: (1) Ketersediaan
buku pegangan guru yang sama; (2) Penetapan strategi pembelajaran dengan lengkap
berdasarkan pendekatan scientific; (3) Ketersediaan silabus pembelajaran;
dimungkinkan kesamaan RPP dalam kabupaten (4) Buku siswa yang sama. (5)
Guru-guru akan mengajar dengan langkah yang sama (mengamati, menanya,
mengumpulkan informasi, mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan). (6) Keberagaman
penilaian dengan berbagai format. Penilaian ini akan menjebak guru pada kontens
menilai dan kurang optimal dalam membelajarkan siswa.
Ketersediaan
buku pegangan guru pada dasarnya hal yang vital. Guru-guru akan memiliki
kesamaan pijakan konsep materi pembelajaran yang sama. Kelemahannya jika
guru-guru terpaku pada satu buku pegangan, maka kreativitas dan kedalaman
konsep materi menjadi dangkal. Kajian-kajian materi yang sama dari sumber lain
tidak tersentuh. Demikian juga dengan buku siswa, jika guru kurang kreatif
untuk menemukan sumber belajar maka materi dalam buku siswa itu dianggapnya
kitab suci. Dalam arti, kajian materi baik terkait factual, konseptual,
prosedural dan metakonitif dalam buku itulah yang paling benar. Kondisi
demikian, menjadikan guru robot
kurikulum.
Dimungkinkan
karena kesamaan RPP maka sintaks-sintaks
pembelajaran akan monoton (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,
mengasosiasikan, mengkomunkasikan). Lebih parah lagi jika sintaks tersebut
diterapkan setiap hari oleh semua guru dalam semua mata pelajaran. Dampak lebih
parah kalau kondisi itu berlaku bertahun-tahun mengikuti jenjang kelas peserta
didik. Jika kondisi ini terjadi maka guru sebatas robot kurikulum.
Taufik
Pasiah menyatakan karena keunikan otak, semua orang berbeda dalam semua hal
keyakinan, emosi, pikiran. Karena itu tidak ada teknik belajar yang baku dan
tunggal untuk semua orang (2006: 51). Ada kontradiksi secara psikologis jika
kurikulum 2013 terimplemenatsi dengan memempatkan guru sebagai robot kurikulum.
Kontradiktif psikologis siswa dengan kontens pembelajaran mengakibatkan
ketidakoptimalan pembelajaran. Dalam arti, baik proses maupun hasil belajar kurang
berhasil. Kondisi demikian, bukan kesalaham kurikulum tetapi belum terjadinya
keselarasan pola pikir pengimplementasi dengan harapan.
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern
dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam
pembelajaran sebagaimana dimaksud
meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk
semua mata pelajaran. Filosofi tersebut sebetulnya dapat
disejajarkan dengan prinsip-prinsip kontruktivisme seperti yang disampaikan
Suparno (1997:23) meliputi: (1) Pengetahuahn dibangun siswa secara aktif; (2)
Aktifitas pembelajaran terpusat pada siswa; (3) Mengajar membantu siswa dalam
belajar; (4) Pembelajaran mengutamakan proses bukan pada hasil akhir hasil; (5)
Kurikulum menekankan partisipasi siswa; dan (6) Guru adalah fasilitator; dan (7)
Terkait konteks social mengutamakan belajar bersama. Filosofi belajar ini yang
sebaiknya dipahami bukan sekedar langkah-langkah yang monoton.
Model-model
pembelajaran berkarakter scientifik termasuk dalam kelompok model yang
memproses informasi (psikologi kognetif). Psikologi ini mengutamakan bagaimana
otak memproses informasi. Proses pembelajaran berdasarkan pengamatan bagaimana
informasi diproses, keputusan dibuat, kapasitas intelektual dikembangkan, dan
kreativitas diekspresikan sekaligus ditingkatkan. Diantara model tersebut
adalah belajar berfikir secara induktif, pencapaian konsep-konsep, mempertajam
keterampilan-keterampilan berfikir dasar, model induktif kata
bergambar,penelitian ilmiah dan latihan penelitiuan,memorization, sinektik dan
belajar dari presentasi demikian Joyce (2009: 95-279). Demikian banyak
strategi-strategi pembelajaran yang berkorelasi dengan pendekatan saintifik.
Strategi-strategi tersebut tentunya menggunkan sintaks pembelajaran yang
bervariatif. Konsep inilah yang perlu diperhatikan. Sekali lagi tidak sekedar
menggunakan langkah monoton.
Tuntutan
kurikulum 2013 adalah penerapan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry
learning, dan pembelajaran
yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning).
Pada dasarnya selaras dengan pembelajaran berbasis kontruktivistik maupun
model-model yang disampaikan Joyce. Dengan demikian implementasi pembelajaran
scientific pada dasarnya mempunyai beberapa ragam. Jadi tidak harus dengan
sintaks: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan,
mengkomunkasikan yang disajikan begitu kaku dan monoton.
Terlepas
dari kompetensi menganalis Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD),
Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran
agar guru tidak menjadi robot kurikulum 2013. Pertama guru mengkaji materi
pembelajaran secara mendalam. Langkah ini ditempuh untuk menyikapi keberadaan
buku guru dan buku siswa. Pemahaman materi ini secara komprehensip dapat
dilakukan di forum MGMP/KKG.
Kedua
pemahaman bagaimana mengajar secara kontruktivisme. Suparno (1997:66)
menyampaikan filosofi pembelajaran ini adalah: (1) Menyediakan pengalaman
belajar yang memungkinkan murid bertanggung jawab dalam membuat: rancangan;
proses dan penelitian; (2) Menyediakan dan memberikan kegiatan-kegiatan yang
merangsang keigintahuan murid; (3) Membantu mereka mengekspresikan diri; (4) Menyediakan
sarana yang merangsang siswa berpikir secara produktif; (5) Menyediakan kesempatan
danpengalaman yang mendukung proses belajar; (6) Guru perlu menyediakan
pengalaman konflik; (7) Langkah yang
diambil guru banyak berinteraksi dengan siswa untuk mengetahui kompetensi
mereka; (8) Tujuan pembelajaran disepakati
bersama; dan (9) Guru perlu flesibel. Langkah demikian akan memberikan
kesempatan siswa untuk mengkonstruk pengetahuan yang didapat berdasarkan
filosofi apa, mengapa dan bagaimana.
Filosofi di atas belum menunjukkan sintaks
yang kongkrit, interprestasi langkah tersebut perlu dilakukan. Sajikan beberapa
sintaks yan relevan dengan indicator dan materi pembelajaran. Tentu saja
sintaks-sintaks tersebut akan sesuai dengan apa yang diharapkan kurikulum 2013.
Mengajar
adalah seni mengajar (art of teaching)
sebagaimana tersampaikan Gage dalamArends (2008:4) mengajar tidak dapat
dituntun dengan sifat ilmiah saja, tetapi sebuah seni yang bersifat instrumental yang membutuhkan improvisasi,
spontanitas, berbagai bentuk, gaya, kecepatan, ritme dan ketepatgunaan. Seni
mengajar menunjukkan kekhasan untuk masing-masing individu. Keberadaan
kurikulum 2013 dengan pengutamaan scientific bukan berarti membatasi guru untuk
tetap mengajar sesuai dengan gayanya. Alangkah naïf jika setiap hari perintah
guru langsung menagmati, menanya, dan sebaginya. Berikanlah siswa kita humor, relaksasi,
dan berbagai jeda pembelajaran (ice breaking). Perlakuan demikian akan membuat
mereka menjadi segar dan menghilangkan kejenuhan.
Akhirnya
terkait kompleksitas evaluasi baik penilain sikap, pengetahuan maupun
ketrampilan peran MGMP dan KKG jelas memegang peran vital. Melalui forum
tersebut dapat dimungkinkan terciptanya keberagaman penilaian baik teknik
maupun format-format yang sesuai. Guru mendalami bagaimana melaksanakan
evaluasi yang sesuai dengan pendekatan sains selaras dengan filosofi kurikulum
2013.
Sekali
lagi guru bukanlah robot kurikulum. Kreativitas, kolektivitas dan hasrat untuk
selalu berkembang akan mengkontruks mind
set menjadi guru hebat.
*Penulis
Guru SMA Negeri 1 Pulung
Daftar Pustaka:
Arends, Richards
I. 2008. Learning To Teach (Belajar untuk
Mengajar). Penerjemah Helly Prajitno
Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Joyce, Bruce.
Marsha Weil. Emily Calhoun. 2009. Models
of Teaching. Penerjemah Achmad
Fawaid dan Ateilla Mirza. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Pasodeliah,
Taufik. 2006. Manajemen kecerdasan.
Mizan pustaka : Bandung
Permendikbud No. 65 tahun 2013
Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah
Suparno, Paul. 1997. Filsafat Kontrukstivisme dalam Pendidikan.
Penerbit Kanisius: Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar