Selasa, 11 Oktober 2016

Guru Bukan Robot Kurikulum



Guru Bukan Robot Kurikulum
Oleh: Sugiyanto*

Kurikulum akan selalu berubah dan berkembang sebagaimana kehidupan manusia. Perkembangan kurikulum akan mengikuti progress peradaban manusia. Peradaban manusia berkorelasi dengan keinginan memudahkan kehidupannya, keingintauhuan, dan hasrat menguasai semesta.  Peradaban demikian akan menghasilkan perubahan pola pikir dan terciptanya berbagai teknologi. Pada sisi lain kurikulum jelas bermuatan tatanilai yang tetap mengendalikan manusia sebagai mahkluk Tuhan, manusia sebagai mahkluk sosial dengan tatanan makna hidup serta nilai kehidupan. Kedua karakter kurikulum tersebut harus tersinergikan, jika tidak peradaban akan membawa pada kehancuran. Keterpaduan faktor di atas menjadi muatan kurikulum baik dari segi material maupun penerapannya.
Penerapan kurikulum dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan seperti: agamis, politis, kultural, kepentingan dan kebutuhan masyarakat, serta ekonomis. Penerapan kurikulum diharapkan akan mencapai tujuan  (target). Paradigma pencapaian tujuan itu diikuti intruksi-intruksi tertentu dalam pelaksanaannya. Intruksi tersebut mengatur dan mengikat segenap stake holder pendidikan, sampai pada titik akhir yaitu pelaksanan pembelajaran dalam kelas. Penerapan intruksi implementasi kurikulum akan memunculkan berbagai dampak pengiring. Dampak pengiring adalah hal lain sebagai ekses, baik positif maupun negatif, dari instruksi (kebijakan).
Kemunculan dampak pengiring tersebut terwujud dalam tataran kebijakan pemerintah, kehidupan masyarakat secara makro, lembaga dan kelas-kelas. Dampak pengiring dapat juga terencanakan tetapi juga dapat muncul sebagai sebuah sistem terkait. Realitas demikian akan menghasilkan sebuah statemen bahwa kurikulum baik dari material, pelaksanaan dan evaluasi akan memunculkan interprestasi yang kompleks. Kurikulum baik secara aksiologis, ontologis dan epistimologis akan memunculkan multi interprestasi. Dan itulah salah satu makna sebuah perubahan. Demikian halnya dengan pemberlakuan kurilum 2013.
Kurikulum 2013 dapat terkategorikan the administrative (line staf) model. Pendesain kurikulum adalah para administrator pendidikan dengan menggunakan prosedur administrasi. Kurikulum dibuat oleh pemerintah atau badan tertentu -Indonesia oleh Depdiknas- kemudian digunakan oleh semua lembaga pendidikan. Penerapan pengembangan kurikulum ini berfilosofis dari atas ke bawah (top down) dan berpola sentralistik. Pelaksanaan kurikulum ini telah mengatur materi sampai dengan pada kegiatan pembelajaran guru di kelas.. Implementasi kurikulum 2013 juga menyertakan buku pegangan guru dan murid sampai dengan metode mengajar guru.
Dampak pengiring implementasi The administrative (line staf) model ada kelebihan dan kekurangan. Kelebihan meliputi: (1) Mutu pendidikan secara nasional dapat terkontrol; (2) Adanya kesamaan interprestasi dan persepsi seluruh warga masyarakat tentang pedoman pelaksanaan pendidikan; (3) Kesamaan layanan pendidikan terhadap masyarakat; (4) Kompetensi guru secara nasional dapat terkontrol; (5) Mutu pendidikan baik dari segi proses perilaku, kompetensi kognetif maupun skill akan berkembang sesuai dengan tuntutan peradaban.
Kekurangan kurikulum demikian adalah: (1) Ketidaksesuaian tentang apa yang ada dalam kurikulum dengan  kondisi riil masyarakat; (2) Kemajemukan bangsa Indonesia tidak menjamin keberlangsungan kurikulum secara optimal; (3) Ketidaksesuaian muatan kurikulum dan kebutuhan peserta didik; (4) Evaluasi pendidikan disamakan antardaerah satu dengan yang lain dengan berbagai kondisi yang berbeda; (5) Pada tataran implementasi akan ada penyelarasan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi; dan (6) Kurang memperhatikan perbedaan motivasi belajar dan kompetensi peserta didik. Namun demikian kekurangan ini akan tertutup oleh kompetensi dan mind set stake holder pendidikan yang berkapabelitas.
Penerapan sebuah kurikulum tidak bermakna ketika mind set stake holder pendidikan tidak mengikuti. Dengan kata lain, filosofi muatan kurikulum 2013 itu tidak berjalan dengan optimal jika tidak diikuti pola pikir segenap pelaku pendidikan. Pemangku kebijakan, pengawas sekolah, kepala sekolah dan guru-guru adalah penentu keberhasilan implementasi sebuah kurikulum. Pada sisi lain penerapan kurikulum berkarakter top down dimungkinkan guru menjalankan pembelajar seperti robot.
Guru akan seperti robot kurikulum jika salah menyikapi hal-hal berikut: (1) Ketersediaan buku pegangan guru yang sama; (2) Penetapan strategi pembelajaran dengan lengkap berdasarkan pendekatan scientific; (3) Ketersediaan silabus pembelajaran; dimungkinkan kesamaan RPP dalam kabupaten (4) Buku siswa yang sama. (5) Guru-guru akan mengajar dengan langkah yang sama (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan). (6) Keberagaman penilaian dengan berbagai format. Penilaian ini akan menjebak guru pada kontens menilai dan kurang optimal dalam membelajarkan siswa.
Ketersediaan buku pegangan guru pada dasarnya hal yang vital. Guru-guru akan memiliki kesamaan pijakan konsep materi pembelajaran yang sama. Kelemahannya jika guru-guru terpaku pada satu buku pegangan, maka kreativitas dan kedalaman konsep materi menjadi dangkal. Kajian-kajian materi yang sama dari sumber lain tidak tersentuh. Demikian juga dengan buku siswa, jika guru kurang kreatif untuk menemukan sumber belajar maka materi dalam buku siswa itu dianggapnya kitab suci. Dalam arti, kajian materi baik terkait factual, konseptual, prosedural dan metakonitif dalam buku itulah yang paling benar. Kondisi demikian,  menjadikan guru robot kurikulum.
Dimungkinkan karena kesamaan RPP maka  sintaks-sintaks pembelajaran akan monoton (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan, mengkomunkasikan). Lebih parah lagi jika sintaks tersebut diterapkan setiap hari oleh semua guru dalam semua mata pelajaran. Dampak lebih parah kalau kondisi itu berlaku bertahun-tahun mengikuti jenjang kelas peserta didik. Jika kondisi ini terjadi maka guru sebatas robot kurikulum. 
Taufik Pasiah menyatakan karena keunikan otak, semua orang berbeda dalam semua hal keyakinan, emosi, pikiran. Karena itu tidak ada teknik belajar yang baku dan tunggal untuk semua orang (2006: 51). Ada kontradiksi secara psikologis jika kurikulum 2013 terimplemenatsi dengan memempatkan guru sebagai robot kurikulum. Kontradiktif psikologis siswa dengan kontens pembelajaran mengakibatkan ketidakoptimalan pembelajaran. Dalam arti, baik proses maupun hasil belajar kurang berhasil. Kondisi demikian, bukan kesalaham kurikulum tetapi belum terjadinya keselarasan pola pikir pengimplementasi dengan harapan.
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud  meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran.  Filosofi tersebut sebetulnya dapat disejajarkan dengan prinsip-prinsip kontruktivisme seperti yang disampaikan Suparno (1997:23) meliputi: (1) Pengetahuahn dibangun siswa secara aktif; (2) Aktifitas pembelajaran terpusat pada siswa; (3) Mengajar membantu siswa dalam belajar; (4) Pembelajaran mengutamakan proses bukan pada hasil akhir hasil; (5) Kurikulum menekankan partisipasi siswa; dan (6) Guru adalah fasilitator; dan (7) Terkait konteks social mengutamakan belajar bersama. Filosofi belajar ini yang sebaiknya dipahami bukan sekedar langkah-langkah yang monoton.
Model-model pembelajaran berkarakter scientifik termasuk dalam kelompok model yang memproses informasi (psikologi kognetif). Psikologi ini mengutamakan bagaimana otak memproses informasi. Proses pembelajaran berdasarkan pengamatan bagaimana informasi diproses, keputusan dibuat, kapasitas intelektual dikembangkan, dan kreativitas diekspresikan sekaligus ditingkatkan. Diantara model tersebut adalah belajar berfikir secara induktif, pencapaian konsep-konsep, mempertajam keterampilan-keterampilan berfikir dasar, model induktif kata bergambar,penelitian ilmiah dan latihan penelitiuan,memorization, sinektik dan belajar dari presentasi demikian Joyce (2009: 95-279). Demikian banyak strategi-strategi pembelajaran yang berkorelasi dengan pendekatan saintifik. Strategi-strategi tersebut tentunya menggunkan sintaks pembelajaran yang bervariatif. Konsep inilah yang perlu diperhatikan. Sekali lagi tidak sekedar menggunakan langkah monoton.
Tuntutan kurikulum 2013 adalah penerapan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning, dan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning). Pada dasarnya selaras dengan pembelajaran berbasis kontruktivistik maupun model-model yang disampaikan Joyce. Dengan demikian implementasi pembelajaran scientific pada dasarnya mempunyai beberapa ragam. Jadi tidak harus dengan sintaks: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan, mengkomunkasikan yang disajikan begitu kaku dan monoton.
Terlepas dari kompetensi menganalis Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) ada beberapa hal  yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran agar guru tidak menjadi robot kurikulum 2013. Pertama guru mengkaji materi pembelajaran secara mendalam. Langkah ini ditempuh untuk menyikapi keberadaan buku guru dan buku siswa. Pemahaman materi ini secara komprehensip dapat dilakukan di forum MGMP/KKG.  
Kedua pemahaman bagaimana mengajar secara kontruktivisme. Suparno (1997:66) menyampaikan filosofi pembelajaran ini adalah: (1) Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan murid bertanggung jawab dalam membuat: rancangan; proses dan penelitian; (2) Menyediakan dan memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keigintahuan murid; (3) Membantu mereka mengekspresikan diri; (4) Menyediakan sarana yang merangsang siswa berpikir secara produktif; (5) Menyediakan kesempatan danpengalaman yang mendukung proses belajar; (6) Guru perlu menyediakan pengalaman konflik; (7)  Langkah yang diambil guru banyak berinteraksi dengan siswa untuk mengetahui kompetensi mereka; (8)  Tujuan pembelajaran disepakati bersama; dan (9) Guru perlu flesibel. Langkah demikian akan memberikan kesempatan siswa untuk mengkonstruk pengetahuan yang didapat berdasarkan filosofi apa, mengapa dan bagaimana.
 Filosofi di atas belum menunjukkan sintaks yang kongkrit, interprestasi langkah tersebut perlu dilakukan. Sajikan beberapa sintaks yan relevan dengan indicator dan materi pembelajaran. Tentu saja sintaks-sintaks tersebut akan sesuai dengan apa yang diharapkan kurikulum 2013.
Mengajar adalah seni mengajar (art of teaching) sebagaimana tersampaikan Gage dalamArends (2008:4) mengajar tidak dapat dituntun dengan sifat ilmiah saja, tetapi sebuah seni yang bersifat  instrumental yang membutuhkan improvisasi, spontanitas, berbagai bentuk, gaya, kecepatan, ritme dan ketepatgunaan. Seni mengajar menunjukkan kekhasan untuk masing-masing individu. Keberadaan kurikulum 2013 dengan pengutamaan scientific bukan berarti membatasi guru untuk tetap mengajar sesuai dengan gayanya. Alangkah naïf jika setiap hari perintah guru langsung menagmati, menanya, dan sebaginya. Berikanlah siswa kita humor, relaksasi, dan berbagai jeda pembelajaran (ice breaking). Perlakuan demikian akan membuat mereka menjadi segar dan menghilangkan kejenuhan.
Akhirnya terkait kompleksitas evaluasi baik penilain sikap, pengetahuan maupun ketrampilan peran MGMP dan KKG jelas memegang peran vital. Melalui forum tersebut dapat dimungkinkan terciptanya keberagaman penilaian baik teknik maupun format-format yang sesuai. Guru mendalami bagaimana melaksanakan evaluasi yang sesuai dengan pendekatan sains selaras dengan filosofi kurikulum 2013.
Sekali lagi guru bukanlah robot kurikulum. Kreativitas, kolektivitas dan hasrat untuk selalu berkembang akan mengkontruks mind set menjadi guru hebat.
                                                     *Penulis Guru SMA Negeri 1 Pulung

Daftar Pustaka:          

Arends, Richards I. 2008. Learning To Teach (Belajar untuk Mengajar). Penerjemah Helly   Prajitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Joyce, Bruce. Marsha Weil. Emily Calhoun. 2009. Models of Teaching. Penerjemah Achmad     Fawaid dan Ateilla Mirza. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Pasodeliah, Taufik. 2006. Manajemen kecerdasan. Mizan pustaka : Bandung
Permendikbud No. 65 tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah

Suparno, Paul. 1997. Filsafat Kontrukstivisme dalam Pendidikan. Penerbit Kanisius: Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar