MEMANDANG KEMBANG BERSEMI
(sebuah tembang guru
pinggiran)
Oleh: Sugiyanto
Aku datang lebih pagi. Sekolah
masih sepi. Setelah menaruh tas, aku menuju ruang computer untuk mencetak
ulangan harian anak-anak. Maklum sudah sekian tahun menjadi guru aku belum juga
membeli computer. Jadi terpaksa harus berangkat lebih pagi agar dapat tepat
waktu.
Pukul tujuh tepat anak-anak sudah
bergerombol di depan kelas. Seperti biasa mereka baru masuk kelas ketika
gurunya datang. Maklum mengajar di sekolah pinggiran sperti ini motivasi
belajar anak tentu berbeda dengan sekolah-sekolah perkotaan. Anak-anak mungkin
belum merasakan bagaimana dia harus belajar. Di rumah kadang mereka
menghabiskan waktu untuk membantu orang tua seperti ke sawah,mencari rumput,
atau bekerja apa saja. Ada
juga yang harus ikut orang lain atau kerabatnya agar dia tetap bersekolah.
Memang tak jarang juga diantara mereka hanya bermain atau keluyuran ke sana ke mari.
Aku melangkah ke kelas 3 IPA 2.
dari jauh anak-anak berebut masuk ruang kelas. Maklum meskipun sudah SMA
kelakuannya kadang masih seperti anak kecil. Atau mungkin hal seperti ini tak
bedanya dengan kalau orang dewasa berkumpul. Bahkan Gus Dur yang saat itu
menjadi Presiden RI
pernah berseloroh DPR itu seperti anak kecil. Jadi kebiasaan anak-anak itu
wajar saja.
“Assalamu Alaikum”
“Walaikum Salam”
Kemudian kami berbasa-basi.
“Anak-anak kita akan
melaksanakaan ulangan harian pertama.”
“Aduh, saya kira ditunda” celetuk
Rudi
“Tidak minggu depan lagi Pak.”
Sambut Widia.
“Setelah selesai, kalian dapat
mengumpulkan lembar jawab,terus istirahat.” Sahutku tak kuhiraukan seloroh
mereka.
Sambil mengawasi mereka, aku
melihat daftar hadir. Maisaroh dua hari kemarin tidak masuk. Aku perhatikan dia
sejenak.
“Kamu belum melunasi uang LKS dan sekolah
?” tanya bu Rina
“Belum Bu, belum diberi uang.”
“Kapan, kira-kira bisa melunasi.”
“Kapan ya, Bu” jawab Maisaroh
“Lho kok balik bertanya.” Sergah
bu Rina
“Habis embok saya masih sakit,Bu”
jawab Maisaroh pelan.
Percakapan itu terjadi seminggu yang lalu. Aku
melihat anak ini dipanggil wali kelas karena belum membayar SPP.. Aku mendengar
ada kesanggupan dia untuk membayar semua itu. Pekerjaan ayahnya sebagai buruh
tani. Terkadang dimintai tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan rumah,
memetik kelapa, mencangkul kebun. Jadi dia bekerja bila ada suruhan orang lain.
Maisaroh anak pertama dari tiga saudara. Saat kuperhatikan wajahnya yang
merunduk ada beban berat di keningnya.
Ah aku ingat dua hari yang lalu
ada tetangga melaksanakan hajatan. Mungkin Maisaroh tidak masuk karena membantu
orangtuanya. Dia mencuci piring dan gelas dalam hajatan itu. Orang tuanya biasa
dimintai tolong untuk pekerjaan itu. Tapi mengapa dia sampai tidak masuk. Anak
ini biasanya sangat rajin. Dan orangtuanyapun berusaha memperhatikan sekolah
anaknya. Mungkin dengan bersekolah dapat mengubah nasib keluarganya.
Saat Maisaroh masih kecil sering membawa
dagangan emboknya ke pasar. Perempuan itu berjual sayur kacang, terong atau
daun singkong hasil dari kebun Setelah sampai pasar dia langsung ke sekolah
sedangkan ibunya menunggui dagangan sambil menggendong bayi. Kala itu Maisaroh
masih memakai seragam SD. . Karena emboknya
sakit dia harus membantu bapaknya
bekerja di hajatan itu. Benar. Maisaroh tampak mengantuk. Dia kelelahan lamban
sekali mengerjakan soal. Tapi aku akan tetap
menegurnya, bukankah tidak semestinya dia membolos..
Pandanganku tertuju tepat pada
murid di depanku Hayati. Siswa satu ini memang prestasinya luar biasa. Semua
mata pelajaran dikuasainya.Dia juga kreatif. Pernah suatu hari aku membaca
tugas catatan hariannya.” Ibuku sudah
bangun ketika kentong berbunyi tiga kali. Kemudian dia akan menyalakan tungku
dengan kayu. Saat ibuku menyalakan tungku itu aku segera bangun meninggalkan
adikku. Bapakku sudah lama tiada. Jadi ibuku dan aku harus bekerja untuk
mencukupi hidup. Setelah mencuci sayuran aku memasaknya untuk dijual besok
pagi. Kemudian menunggui ibu membuat sambal dan menggoreng tempe, aku masih
sempat membaca buku. Tak lama pasti terdengar adzan subuh. Adikku cepat bangun.
Setelah sholat dia membersihkan warung dan mengambil air. Adikku masih kelas
enam. Pukul 06.15 aku dan adikku berangkat sekolah. Aku bahagia.” Saat itu tugas itu aku baca dua tiga
kali. Ada
butiran putih halus yang mampu masuk dalam rongga-rongga hidup.
“Anak-anak kalau sudah selesai
bisa dikumpulkan.”
“Belum Pak” serentak dia menjawab
Tak terasa anak-anak ini sudah
tiga tahun bersekolah. Sebentar lagi akan lulus. Mereka sudah berubah. Nur
misalnya tiga tahun lalu masih sering menangis di ruang BP. Aku tahu Nur ini
bersekolah dengan ikut orang lain.pagi-pagi dia harus sudah menanak nasi,
membersihkan rumah, menyiapkan makan pagi mungkin baru berangkat sekolah. Dia
sendiri belum sempat makan pagi. Pulang sekolah menunggu toko. Saat kelas satu
SMA mungkin pekerjaan itu terlalu berat. Sekarang sudah tak pernah aku
melihatnya menangis. .
Melihat Maisaroh, Hayati dan Nur
dan tentu masih banyak lagi yang lain, kadang-kadang hatiku berontak dan
menangis. Aku tak tega melihat anak-anak ini mengais hidup. Menapaki hari
mencapai cita-cita. Aku tak kuasa melihat mereka kadang dikejar-kejar dengan
biaya sekolahnya. Sementara untuk hidup itu sendiri sulit rasanya. Tapi apakah
kuasaku, kemampuan tangan dan hatiku tak ubahnya sejengkal harap. Memang tidak
semua, banyak diantara mereka yang dapat bersekolah dengan baju bersih dan
rapi. Mereka naik sepeda motor saat bersekolah. Kadang menggunakan uang sekolah
untuk membeli kebutuhan lain. Melihat semua ini bagaikan pelangi hati yang
dipermainkan awan.
Aku melihat anak-anak lain.
Mereka semua asyik mengerjaan soal. Saat seperti ini aku melihat semua sama.
Anak-anak ini sama mempunyai hak dan kewajiban. Mereka membayar uang spp,
bangunan, les, buku penunjang, LKS, kalender, majalah dan bermacam lagi. Tentu
saja mereka berhak mendapatkan layanan pendidikan. Meskipun kita tahu bahwa
pendidikan kadang tak juga menjanjikan. Mereka ceria menghadapi masa
Pikiranku menerawang jauh
melampaui bukit-bukit waktu.
“ Dik, berapa hari tidak masuk”
tanyaku.
“Satu minggu Pak.” Jawabnya
ketus.
Anak yang satu ini memang
kelihatan keras. Pakaiannya tak pernah rapi. Rambutnya dibiarkan agak
memanjang.
“Ringan sekali kau menjawab, satu
minggu tanpa izin.” Lanjutku.
“Maaf Pak, saya agak repot.”
Jawabnya. Didik ini disukai banyak teman.Pandai menempatkan diri. Hanya agak
tertutup. Dia juga dipilih sebagai ketua kelas. Prestasi belajarnya juga
lumayan
“Tapi sekolah kan harus diutamakan ?” tanyaku
Dengan kata-kata demikian anak
ini sudah mengalirkan air mata, deras sekali. Tangisnya tampak tertahan.
“ Sudah, besuk lagi tidak boleh
begitu” Aku tak kuasa menanyainya. Anak setegar ini begitu rapuh.
Saat itu pagi belum selesai. Satu
minggu tepat dari aku memanggil Didik.
“Pagi, Pak.” Tiba-tiba seorang
siswa masuk kantor guru dan menyapaku.
“Pagi,” jawabku
“ Pak Didik jatuh pak” dia memberi khabar
“Jatuh, dimana ?”selaku
“Di rumah Pak, perwakilan teman
mau kesana Bapak diharap ikut.”
“Baik.” Jawabku.
Aku memasuki sebuah wilayah
pedesaan dekat pantai. Terbayang olehku keluarga Didik lebih dari cukup.
Seperti rumah lain pada umumnya. Setiap rumah pasti memiliki banyak pohon
kelapa. Pohon-pohon itu dapat dipanen dua, tiga minggu sekali. Tentu hasilnya
lumayan. Banyak orang berdiri di pinggir jalan. Di antara mereka melihat dan
mengangguk begitu kami lewat. Maklum di pedesaan seperti ini, jadi guru banyak
dikenal orang.
Di sudut jalan berdiri sebuah rumah kecil,
berukuran empat kali tujuh. Dindingnya gedek banyak yang berlubang. Di sekitar
rumah masih banyak orang bergerombol.Sebelah kanan rumah tampak tumpukan sabut
kelapa masih basah. Di depan rumah ada kursi kayu panjang. Orang-orang
mempersilahkan aku untuk duduk.
“Ini adik Didik satu-satunya”
kata orang di sebelahku . Aku lihat bocah polos berurai air mata. Tampak begitu
terpukul.
“Kalau Bapaknya ?” tanyaku
“Sudah lama tidak ada.” Jawabnya
Anak kecil itu memakai baju
seragam yang tampak kusam. Raut mukanya memendam kesedian yang mendalam.
Sesekali dia menggigit bibirnya dan matanya melihat ke dalam rumah. Kepedihan
begitu terpancar dari dua matanya. Di dalam rumah ada seorang mantri dibantu oleh beberapa orang tua ( dukun ).
“Semoga nyawanya tertolong,
jatuhnya cukup tinggi.” Lanjut orang tua disampingku.
“Kapan Pak kejadiannya” tanyaku.
“Tadi pagi, Pak Guru, ibunya
sudah melarang, kalau pagi pohon kelapa lebih licin.”
“Apa itu pohonnya sendiri.”
“Bukan, Pak, Didik hanya bekerja
untuk mengambilkan buahnya, kebunnya sendiri sudah dijual sejak bapaknya tidak
ada”
“Mengapa tidak dilakukan sore
hari.” Tanyaku
“Sudah Pak, sore dia sudah bekerja,
mungkin pagi bisa menambah sedikit, ya biar dapat tambahan pak.”
Biar dapat tambahan sedikit kata
itu kuulang dalam hati. Aku tidak melanjutkan pertanyaan.
“Didik itu anaknya suka bekerja
keras, kerja apa saja mau untuk membantu ibu dan membiayai sekolahnya.” Lanjut
orang tua itu.
Anak ini membiayai sekolah dengan
keringatnya sendiri pikirku. Aku tahu mengapa dia begitu tertutup.
Mantri kesehatan keluar dari
rumah sambil geleng kepala. Tak lama kemudian terdengar jeritan perempuan
separo baya. Innalilahi Wainailaihi
Rojiun. Didik telah berpulang.
Aku melihat tubuh salah satu
muridku terbujur. Sebuah jarid hitam menutupnya. Aku menguatkan diri mendekat.
Aku buka wajahnya. Maafkan aku anakku demikian kata hatiku. Pasti butiran air
mata jatuh juga, sekuatnya aku menahan. Aku tak menyangka cita-cita hidupmu
hanya sampai disini, di pagi ini.
“Katanya dia belum membayar keuangan sekolah
Pak” ibu Didik berkata
“Makanya dia nekat bekerja dulu
sebelum sekolah, saya yang salah Pak, hasil kerja Didik untuk belanja dan
membeli obat adiknya yang sakit.” Tangis ibu Didik menjadi
“Dia tulang punggung keluarga kami Pak.”
Lanjutnya.
“Sudahlah Bu, sudah, semua sudah
Takdir dan ada yang mengatur.” hiburku
Aku tidak mampu mengeluarkan
kata-kata lagi, kerongkonganku terasa tersumbat .Ada kegundaan merambat dari
mata ke telinga. Teman-teman Didik bermandikan air mata.Mereka juga tampak
kehilangan. Semua merunduk. Suasana yang dipadati orang itu seakan sepi.
Peristiwa empat tahun itu telah membelenggu hatiku.
“Pak, maaf pak, Bapak menangis”
“Ah tidak.” Jawabku
“Saya mengumpulkan yang terakhir,
teman-teman sudah habis” kata Maisaroh
Benar pelajaran hampir selesai,
murid-muridku telah meninggalkan ruang kelas.
“Tidak apa-apa, Maisaroh, bawa
kesini pekerjaan itu. “
Aku tidak mampu menegur anak ini.
Aku melangkah menuju ruang guru. Ada
debu yang beterbangan di atas tanah berlubang.
Pulung,
16 Feb 2005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar