Jumat, 21 Oktober 2016

Cerpen MEMANDANG KEMBANG BERSEMI (sebuah tembang guru pinggiran)



MEMANDANG KEMBANG BERSEMI
(sebuah tembang guru pinggiran)

Oleh: Sugiyanto
                                                                                               
Aku datang lebih pagi. Sekolah masih sepi. Setelah menaruh tas, aku menuju ruang computer untuk mencetak ulangan harian anak-anak. Maklum sudah sekian tahun menjadi guru aku belum juga membeli computer. Jadi terpaksa harus berangkat lebih pagi agar dapat tepat waktu.

Pukul tujuh tepat anak-anak sudah bergerombol di depan kelas. Seperti biasa mereka baru masuk kelas ketika gurunya datang. Maklum mengajar di sekolah pinggiran sperti ini motivasi belajar anak tentu berbeda dengan sekolah-sekolah perkotaan. Anak-anak mungkin belum merasakan bagaimana dia harus belajar. Di rumah kadang mereka menghabiskan waktu untuk membantu orang tua seperti ke sawah,mencari rumput, atau bekerja apa saja. Ada juga yang harus ikut orang lain atau kerabatnya agar dia tetap bersekolah. Memang tak jarang juga diantara mereka hanya bermain atau keluyuran ke sana ke mari.

Aku melangkah ke kelas 3 IPA 2. dari jauh anak-anak berebut masuk ruang kelas. Maklum meskipun sudah SMA kelakuannya kadang masih seperti anak kecil. Atau mungkin hal seperti ini tak bedanya dengan kalau orang dewasa berkumpul. Bahkan Gus Dur yang saat itu menjadi  Presiden RI pernah berseloroh DPR itu seperti anak kecil. Jadi kebiasaan anak-anak itu wajar saja.
“Assalamu Alaikum”
“Walaikum Salam”
Kemudian kami berbasa-basi.
“Anak-anak kita akan melaksanakaan ulangan harian pertama.”
“Aduh, saya kira ditunda” celetuk Rudi
“Tidak minggu depan lagi Pak.” Sambut Widia.
“Setelah selesai, kalian dapat mengumpulkan lembar jawab,terus istirahat.” Sahutku tak kuhiraukan seloroh mereka.

Sambil mengawasi mereka, aku melihat daftar hadir. Maisaroh dua hari kemarin tidak masuk. Aku perhatikan dia sejenak.
 “Kamu belum melunasi uang LKS dan sekolah ?”  tanya bu Rina
“Belum Bu, belum diberi uang.”
“Kapan, kira-kira bisa melunasi.”
“Kapan ya, Bu” jawab Maisaroh
“Lho kok balik bertanya.” Sergah bu Rina
“Habis embok saya masih sakit,Bu”  jawab Maisaroh pelan.

 Percakapan itu terjadi seminggu yang lalu. Aku melihat anak ini dipanggil wali kelas karena belum membayar SPP.. Aku mendengar ada kesanggupan dia untuk membayar semua itu. Pekerjaan ayahnya sebagai buruh tani. Terkadang dimintai tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan rumah, memetik kelapa, mencangkul kebun. Jadi dia bekerja bila ada suruhan orang lain. Maisaroh anak pertama dari tiga saudara. Saat kuperhatikan wajahnya yang merunduk ada beban berat di keningnya.

Ah aku ingat dua hari yang lalu ada tetangga melaksanakan hajatan. Mungkin Maisaroh tidak masuk karena membantu orangtuanya. Dia mencuci piring dan gelas dalam hajatan itu. Orang tuanya biasa dimintai tolong untuk pekerjaan itu. Tapi mengapa dia sampai tidak masuk. Anak ini biasanya sangat rajin. Dan orangtuanyapun berusaha memperhatikan sekolah anaknya. Mungkin dengan bersekolah dapat mengubah nasib keluarganya.

 Saat Maisaroh masih kecil sering membawa dagangan emboknya ke pasar. Perempuan itu berjual sayur kacang, terong atau daun singkong hasil dari kebun Setelah sampai pasar dia langsung ke sekolah sedangkan ibunya menunggui dagangan sambil menggendong bayi. Kala itu Maisaroh masih memakai seragam SD. . Karena emboknya sakit  dia harus membantu bapaknya bekerja di hajatan itu. Benar. Maisaroh tampak mengantuk. Dia kelelahan lamban sekali mengerjakan soal. Tapi aku akan tetap  menegurnya, bukankah tidak semestinya dia membolos..

Pandanganku tertuju tepat pada murid di depanku Hayati. Siswa satu ini memang prestasinya luar biasa. Semua mata pelajaran dikuasainya.Dia juga kreatif. Pernah suatu hari aku membaca tugas catatan hariannya.” Ibuku sudah bangun ketika kentong berbunyi tiga kali. Kemudian dia akan menyalakan tungku dengan kayu. Saat ibuku menyalakan tungku itu aku segera bangun meninggalkan adikku. Bapakku sudah lama tiada. Jadi ibuku dan aku harus bekerja untuk mencukupi hidup. Setelah mencuci sayuran aku memasaknya untuk dijual besok pagi. Kemudian menunggui ibu membuat sambal dan menggoreng tempe, aku masih sempat membaca buku. Tak lama pasti terdengar adzan subuh. Adikku cepat bangun. Setelah sholat dia membersihkan warung dan mengambil air. Adikku masih kelas enam. Pukul 06.15 aku dan adikku berangkat sekolah. Aku bahagia.” Saat itu tugas itu aku baca dua tiga kali. Ada butiran putih halus yang mampu masuk dalam rongga-rongga hidup.

“Anak-anak kalau sudah selesai bisa dikumpulkan.”
“Belum Pak” serentak dia menjawab

Tak terasa anak-anak ini sudah tiga tahun bersekolah. Sebentar lagi akan lulus. Mereka sudah berubah. Nur misalnya tiga tahun lalu masih sering menangis di ruang BP. Aku tahu Nur ini bersekolah dengan ikut orang lain.pagi-pagi dia harus sudah menanak nasi, membersihkan rumah, menyiapkan makan pagi mungkin baru berangkat sekolah. Dia sendiri belum sempat makan pagi. Pulang sekolah menunggu toko. Saat kelas satu SMA mungkin pekerjaan itu terlalu berat. Sekarang sudah tak pernah aku melihatnya menangis. .

Melihat Maisaroh, Hayati dan Nur dan tentu masih banyak lagi yang lain, kadang-kadang hatiku berontak dan menangis. Aku tak tega melihat anak-anak ini mengais hidup. Menapaki hari mencapai cita-cita. Aku tak kuasa melihat mereka kadang dikejar-kejar dengan biaya sekolahnya. Sementara untuk hidup itu sendiri sulit rasanya. Tapi apakah kuasaku, kemampuan tangan dan hatiku tak ubahnya sejengkal harap. Memang tidak semua, banyak diantara mereka yang dapat bersekolah dengan baju bersih dan rapi. Mereka naik sepeda motor saat bersekolah. Kadang menggunakan uang sekolah untuk membeli kebutuhan lain. Melihat semua ini bagaikan pelangi hati yang dipermainkan awan.

Aku melihat anak-anak lain. Mereka semua asyik mengerjaan soal. Saat seperti ini aku melihat semua sama. Anak-anak ini sama mempunyai hak dan kewajiban. Mereka membayar uang spp, bangunan, les, buku penunjang, LKS, kalender, majalah dan bermacam lagi. Tentu saja mereka berhak mendapatkan layanan pendidikan. Meskipun kita tahu bahwa pendidikan kadang tak juga menjanjikan. Mereka ceria menghadapi masa

Pikiranku menerawang jauh melampaui bukit-bukit waktu.
“ Dik, berapa hari tidak masuk” tanyaku.
“Satu minggu Pak.” Jawabnya ketus.
Anak yang satu ini memang kelihatan keras. Pakaiannya tak pernah rapi. Rambutnya dibiarkan agak memanjang.
“Ringan sekali kau menjawab, satu minggu tanpa izin.” Lanjutku.
“Maaf Pak, saya agak repot.” Jawabnya. Didik ini disukai banyak teman.Pandai menempatkan diri. Hanya agak tertutup. Dia juga dipilih sebagai ketua kelas. Prestasi belajarnya juga lumayan
“Tapi sekolah kan harus diutamakan ?” tanyaku
Dengan kata-kata demikian anak ini sudah mengalirkan air mata, deras sekali. Tangisnya tampak tertahan.
“ Sudah, besuk lagi tidak boleh begitu” Aku tak kuasa menanyainya. Anak setegar ini begitu rapuh.

Saat itu pagi belum selesai. Satu minggu tepat dari aku memanggil Didik.
“Pagi, Pak.” Tiba-tiba seorang siswa masuk kantor guru dan menyapaku.
“Pagi,” jawabku
“ Pak Didik jatuh pak”  dia memberi khabar
“Jatuh, dimana ?”selaku
“Di rumah Pak, perwakilan teman mau kesana Bapak diharap ikut.”
“Baik.” Jawabku.

Aku memasuki sebuah wilayah pedesaan dekat pantai. Terbayang olehku keluarga Didik lebih dari cukup. Seperti rumah lain pada umumnya. Setiap rumah pasti memiliki banyak pohon kelapa. Pohon-pohon itu dapat dipanen dua, tiga minggu sekali. Tentu hasilnya lumayan. Banyak orang berdiri di pinggir jalan. Di antara mereka melihat dan mengangguk begitu kami lewat. Maklum di pedesaan seperti ini, jadi guru banyak dikenal orang.

 Di sudut jalan berdiri sebuah rumah kecil, berukuran empat kali tujuh. Dindingnya gedek banyak yang berlubang. Di sekitar rumah masih banyak orang bergerombol.Sebelah kanan rumah tampak tumpukan sabut kelapa masih basah. Di depan rumah ada kursi kayu panjang. Orang-orang mempersilahkan aku untuk duduk.
“Ini adik Didik satu-satunya” kata orang di sebelahku . Aku lihat bocah polos berurai air mata. Tampak begitu terpukul.
“Kalau Bapaknya ?” tanyaku
“Sudah lama tidak ada.” Jawabnya

Anak kecil itu memakai baju seragam yang tampak kusam. Raut mukanya memendam kesedian yang mendalam. Sesekali dia menggigit bibirnya dan matanya melihat ke dalam rumah. Kepedihan begitu terpancar dari dua matanya. Di dalam rumah ada seorang mantri  dibantu oleh beberapa orang tua ( dukun ).
“Semoga nyawanya tertolong, jatuhnya cukup tinggi.” Lanjut orang tua disampingku.
“Kapan Pak kejadiannya” tanyaku.
“Tadi pagi, Pak Guru, ibunya sudah melarang, kalau pagi pohon kelapa lebih licin.”
“Apa itu pohonnya sendiri.”
“Bukan, Pak, Didik hanya bekerja untuk mengambilkan buahnya, kebunnya sendiri sudah dijual sejak bapaknya tidak ada”
“Mengapa tidak dilakukan sore hari.” Tanyaku
“Sudah Pak, sore dia sudah bekerja, mungkin pagi bisa menambah sedikit, ya biar dapat tambahan pak.”
Biar dapat tambahan sedikit kata itu kuulang dalam hati. Aku tidak melanjutkan pertanyaan.
“Didik itu anaknya suka bekerja keras, kerja apa saja mau untuk membantu ibu dan membiayai sekolahnya.” Lanjut orang tua itu.
Anak ini membiayai sekolah dengan keringatnya sendiri pikirku. Aku tahu mengapa dia begitu tertutup.

Mantri kesehatan keluar dari rumah sambil geleng kepala. Tak lama kemudian terdengar jeritan perempuan separo baya. Innalilahi Wainailaihi Rojiun. Didik telah berpulang.
Aku melihat tubuh salah satu muridku terbujur. Sebuah jarid hitam menutupnya. Aku menguatkan diri mendekat. Aku buka wajahnya. Maafkan aku anakku demikian kata hatiku. Pasti butiran air mata jatuh juga, sekuatnya aku menahan. Aku tak menyangka cita-cita hidupmu hanya sampai disini, di pagi ini.
 “Katanya dia belum membayar keuangan sekolah Pak” ibu Didik berkata
“Makanya dia nekat bekerja dulu sebelum sekolah, saya yang salah Pak, hasil kerja Didik untuk belanja dan membeli obat adiknya yang sakit.” Tangis ibu Didik menjadi
 “Dia tulang punggung keluarga kami Pak.” Lanjutnya.
“Sudahlah Bu, sudah, semua sudah Takdir dan ada yang mengatur.” hiburku
Aku tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi, kerongkonganku terasa tersumbat .Ada kegundaan merambat dari mata ke telinga. Teman-teman Didik bermandikan air mata.Mereka juga tampak kehilangan. Semua merunduk. Suasana yang dipadati orang itu seakan sepi. Peristiwa empat tahun itu telah membelenggu hatiku.

“Pak, maaf pak, Bapak menangis”
“Ah tidak.” Jawabku
“Saya mengumpulkan yang terakhir, teman-teman sudah habis” kata Maisaroh
Benar pelajaran hampir selesai, murid-muridku telah meninggalkan ruang kelas.
“Tidak apa-apa, Maisaroh, bawa kesini pekerjaan itu. “
Aku tidak mampu menegur anak ini. Aku melangkah menuju ruang guru. Ada debu yang beterbangan di atas tanah berlubang.


                                                                        Pulung, 16 Feb 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar